
Le Grand Voyage adalah film yang membuat penontonnya pulang dengan hati ‘berdarah-darah’. Film ini bertemakan “road trip film” dengan subtema religi. Sebagai film yang sukses mengaduk emosi dan menggelitik saraf spiritual, Le Grand Voyage terhitung unik. Film ini amat sederhana, jika tidak miskin penggarapan teknis. Penonton kerap dihadapkan pada banyak ruang kosong.
Terlihat scene tokoh utama, Reda, mengayuhkan sepedanya. Dia menuju tempat rongsokan untuk memperbaiki mobil yang akan dikendarainya ke Mekkah. Mobil tua peageut biru tersebut diperbaiki pintu kananya, dengan pintu serupa berwarna orange. Reda, anak kedua di keluarga imigran maroko ini masih duduk di SMA Prancis.
Saat ayahnya mengajak untuk menemani pergi haji lewat jalur darat, dia tidak bisa menolak. Walaupun sebenarnya dia tidak mau dan mesti ikut ujian di kelasnya bulan itu. Tapi dia tidak bisa menolak permintaan bapaknya yang tercinta. Dia tidak berani. Nilai tambah hubungan keluarga orang timur: Sebuah penghormatan pada orang tua.
Selama perjalanan, sifat asli dari keduanya terungkap. Pertengkaran khas antara bapak dan anak (sering terjadi di keluargaku) tersampaikan dengan sangat seru dan apik. Dengan itu anaknya belajar tentang Islam dan mengapa ayahnya lebih memilih menggunakan mobil dari pada peswawat untuk haji. Salah satu jawab ayahnya (Muhammad Majed), “air laut ketika dia menguap ke langit, asinnya sudah hilang. maka dari itu, pergi haji lebih baik dengan jalan kaki dari pada naik kuda, lebih baik naik kuda dari pada naik mobil, namun lebih baik naik mobil dari pada naik kapal. Tapi naik kapal lebih baik dari pada naik pesawat.”
Perjalanan keduanya membuka mata bagaimana sebenarnya Eropa, manusia, budaya, iklim, dan pemandangannya. Rutenya menggambarkan perjalanan dari Prancis, Itali, Slovenia, Kroasia, Serbia, Bulgaria, Turki, Syria, dan Jordan hingga akhirnya sampailah di Saudi Arabia.
Secara sinematografis, gambar yang dihasilkan dalam film Le Grand Voyage bernilai secara artistik dan teknik. Bila dilihat dari segi artistik film ini sangat indah dan begitu menarik untuk ditonton serta jika dilihat dari segi teknik dalam pengambilan gambarnya sangat cocok dan tepat dengan latar atau pun temanya, sehingga gambar yang dihasilkan sesuai dengan tuntutan cerita.
Tidak ketinggalan tata cahaya yang mampu membangun emosi film yang pas. Film ini sangat sederhana. Penonton kerap dihadapkan pada banyak ruang kosong. Dialog ayah dan anak ini amat sedikit. Namun, kejeniusan tampak pada kesederhanaan. Terlihat sekali tata cahaya dalam film ini dapat membangun serta membentuk sebuah adegan dalam film Le Grand Voyage. Tentunya pada saat menonton kita dapat mengerti apa maksud dari film tersebut. Yang tergambar dalam cerita ini adalah sebuah perjalanan (dari awal hingga akhir) untuk mencapai tujuan yang mulia.
Ini film lama, tapi recommended untuk kamu yang suka genre drama atau religious
)


